Ketua Umum PBNU Minta Pendidikan Tinggi Contoh Pondok Pesantren

METRO : Meskipun sering dipandang sebelah mata dan dijuluki sebagai lembaga pendidikan tradisional, pondok pesantren sebenarnya memiliki memiliki keunggulan yang tidak kalah dibanding lembaga pendidikan formal, bahkan perguruan tinggi negeri terkenal sekalipun.

Mulai dari dirintis sebelum kemerdekaan hingga abad ini, pondok pesantren selalu mampu menghasilkan warga negara sekaligus yang berkarakter yang sekarang baru digalakkan pemerintah. Saat penjajahan mereka ikhlas berjuang dan pascakemerdekaan mereka bahu membahu dengan berbagai pihak dan arif terhadap dinamika pembangunan.

Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siradj, M.A mengatakan hal itu ketika memberi kuliah umum 456 wisudawan Institut Agama Islam Ma’arif Nahdlatul Ulama (IAIM-NU) Metro, Lampung, Senin (12-4). Ketua PP LP Ma’arif NU Arifin Junaidi, Wali Kota Metro Ahmad Pairin, dan sejumlah tokoh maupun pejabat nasional hingga daerah hadiri pada kesempatan itu.

Karena itu, Kiai Said mengharapkan seluruh pengelola sekolah maupun perguruan tinggi yang ada di Indonesia, meniru sistem pembelajaran pondok pesantren. Sebab, ada system maupun nilai-nilai positif yang merupakan kearifan lokal, yang bisa diadposi untuk menyempurnakan sistem pendidikan formal.

“Selama dua tahun saya menjadi pengrusu Majelis Wali Amanah Universitas Indonesia, saya selalu menekankan ini. Jangan merasa hebat ketika menghasilkan sarjana, tetapi masih jauh dari nilai-nilai pondok pesantren,” ingat beliau yang disambut tepuk tangan wisidawan, apalagi sejumlah pengasuh pondok pesantren yang hadir.

Kiai yang dua periode memimpin NU ini mengakui para kiai pengasuh pondok pesantren tidak mengenal psikologi ataupun pedagogik. Meskipun begitu, mereka bukan saja mampu menransfer ilmu pengetahuan akan tetapi juga keterampilan dan sikap, dalam hubungannya dengan diri sendiri, sesama, maupun Allah swt.

Di pondok pesantren, lanjut beliau, ada ta’lim atau transfer ilmu seperti halnya perguruan tinggi. Namun, di lembaga pendidikan ini pengalihan itu dibarengi dengan adab dan akhlak. Dengan begitu, saat kembali ke masyarakat para santri bisa menjadi rahmat bagi seluruh alam. Bahkan, meskipun tidak diajarkan, hampir tidak lulusan yang menganggur.

Di pondok pesantren juga ada tadris atau transfer ilmu dan keterampilan tanpa melalui pembelajaran langsung. Mereka bisa belajar langsung kepada kiainya, bagaimana hidup dan bergaul dengan anggota keluarga, teman, masyarakat, bahkan sekaligus dalam mencari nanfkah misalnya bertani atua beternak.

Selain itu, system pembelajaran di pondok pesantren juga berupa ta’dib atau penanaman kedisiplinan. Santri yang datang terlambat, Said mencontohkan, biasanya lebih baik tidak masuk. “Dia malu bukan karena melanggar aturan melainkan kepada Allah sebab ketaatan kepada orang yang taat kepada Allah.”

Terakhir, adalah tabyad atau mengasah kecerdasan. Kemampun itupun tidak dilakukan serta merta pada setiap pembelajaran melainkan ada masanya, yakni setelah bekal ilmu dan keterampilan yang dimiliki dinilai cukup. Kecerdasan itupun tidak hanya pada tataran akal akan tetapi juga mental dan spiritual.

Jika semua pengelola pendidikan mampu meniru system pondok pesantren, para lulusannya akan jauh lebih unggul disbanding yang jauh dari nilai-nilai dimaksud. Sebagai perguruan tinggi yang dikelola NU, Said mengharapkan IAIM-NU menjadi garda terdepan dalam mengadopsi system pendidikan dimaksud.

Pada wisuda kali ini, Dia Anggraini dari Pogram Studi (Prodi) D3 Perbankan Syariah, tampil sebagai wisudawan terbaik dengan indeks prestasi komulatif 3,84, disusul May Gurun Sahara dari Pendidikan Bahasa Inggris (4,81), dan Imam Gozali dari Pendidikan Bahasa Arab (3,79).

Selain itu, Anggunita Lestari dari Prodi Pendidikan Agama Islam tercatat sebagai wisudawan termuda, dengan usia 21 taun 7 bulan. Sementara yang tetua ditempati Murtado dari prodi yang sama, dengan usia 65 tahun delapan bulan. Keduanya mendapat apresiasi dari Said maupun Wali Kota Metro, Ahmad Pairin.

Said didampingi Ketua LP Ma’arif NU Metro Ismail dan Rektor IAIM-NU Mispani, seusai wisuda juga meninjau sejumlah sarana dan prasarana kampus. Mereka juga meninjau pembangunan gedung baru BMT Artha Buana dan calon mini market, yang merupakan badan usaha lembaga pendidikan itu. M. IKHWANUDDIN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *